Selasa, 08 Juli 2014
LINGKARAN KEHIDUPAN
Lingkaran-Lingkaran Kehidupan
Matahari mengintip perlahan. Bola raksasa yang tampak kemerahan itu menyembul dari
cakrawala. Sinar kuning emasnya menyeruak menembus gumpalan awan-awan tipis. Seolah
puluhan lampu sorot memancar ke segala penjuru langit, memantul diatas permukaan air
yang dipenuhi riak kecil. Malam sudah berlalu, pagi datang menjelang. Gelap yang
menyelimuti pantai, kini semakin sirna. Permukaan pasir pun kini kian memutih. Perahuperahu
yang tadinya hanya sebuah bayangan hitam yang dingin, sekarang jelas sudah. Pagi
yang menakjubkan disuatu pantai nan indah.
Aku dan kakek menghentikan langkah kami sejenak. Ratusan jejak kaki yang sedari tadi
mengekor itu pun terputus. Begitu juga dengan dua bayangan hitam yang terlihat memanjang
itu. Dengan kaki terbenam basah di permukaan pasir yang lembut, kami berdua memandang
ke kejauhan. Tidak ada yang ingin ku lakukan selain diam.
"Inilah yang ku pelajari dari hidup..", ujar kakek perlahan
Aku menoleh kepadanya sebentar, wajah yang tampak tertimpa cahaya matahari itu
tersenyum lembut.
"Hidup menyimpan begitu banyak misteri", lanjutnya sambil kembali melempar pandangan
kearah pantai.
"Misteri ?", tanyaku dengan kening berkerut.
"Iya, cucuku..", jawab kakek,
"Sampai kapanpun tidak perduli berapapun umur yang dianugrahkan oleh sang hidup, selalu
saja ada sesuatu yang tersembunyi bagi matamu".
"Apakah itu berarti kakek tidak puas akan hidup ini?
"Sama sekali tidak", kakek meraih tanganku, kami berjalan mencari tempat yang kering
kemudian duduk bersama di atas pasir.
"Hidup memberi petunjuk tetapi tidak membuka seluruhnya bagi hidupmu", ujarnya kembali,
"meninggalkan rasa ingin tahu yang dalam dihati mereka yang bersedia berpikir"
"Jika demikian, apa yang Kakek pelajari setelah sekian lama hidup ?",tanyaku sambil
menghadapkan tubuhku kepada nya
"Sederhana", jawab kakek,"aku belajar banyak hal. Tetapi dari semua hal itu, lingkaranlingkaran
kehidupanlah yang paling aku sukai".
"Lingkaran kehidupan ?"
"Ya..lingkaran kehidupan", jawab kakek.
Tangannya kemudian meraih sebongkah kerang. Tangan tua itu bergerak-gerak, menggambar
diatas permukaan pasir. Sebuah lingkaran, kemudian dua buah lingkaran yang saling
berpotongan satu sama lain.
"Inilah yang ku maksud.", Kakek menunjuk lingkaran pertama,
"Kehidupan ini dibentuk oleh berbagai lingkaran. Segalanya bergerak dan tanpa disadari
sebuah lingkaranpun terbentuk. Air turun dari langit, jatuh diatas permukaan tanah, bumi
menghisapnya dan mengeluarkannya pada sebuah sungai. Sungai berjalan beriringan menuju
tempat dimana lautan sudah menunggunya. Setibanya disana. Matahari menjemput air itu
dan memberikannya lagi ke langit. Demikian seterusnya dan seterusnya. Ini hanya secuil dari
berjuta lingkaran-lingkaran penyusun kehidupan ini".
"Bagaimana dengan manusia ?", tanya ku ingin tahu,"apakah manusia dan sesama nya juga
membentuk lingkaran-lingkaran itu ?"
"Benar cucuku",kata kakek sambil menunjuk kembali lingkaran yang pertama.
"Meskipun agak berbeda dengan alam. Tetapi manusia dan sesamanya membentuk sebuah
lingkaran dan setiap kita berada dalam lingkaran kita masing-masing."
"Apa maksud kakek ?"
"Pikiran, perkataan dan perbuatan mu menentukan kau ada di lingkaran yang mana", jawab
kakek
"Aku semakin tidak mengerti", kataku sambil menggaruk-garuk rambut di kepala.
"Begini maksud kakek. Jika pikiran, perkataan dan perbuatan mu baik, kau berada dalam
lingkaran yang baik. Tetapi jika ketiga hal itu berada ditempat yang tercela, berarti hidupmu
tergabung dalam lingkaran orang-orang tercela. Orang lain dapat kita bohongi, bahkan diri
kita sendiri, tetapi hidup adalah hakim yang adil. Engkau hanya akan mendapatkan upah
sesuai dengan di lingkaran mana kau berdiri. Jika hidupmu tulus, maka engkau akan
merasakan ketulusan dari orang lain dan orang itupun akan mengalami ketulusan juga dari
orang yang lain lagi. Begitu juga jika engkau murah hati, maka hidup akan mendekatkanmu
dengan orang-orang yang murah hati, sehingga orang-orang yang murah hati itu akan
membentuk sebuah lingkaran lagu. Tetapi jika pikiran, perkataan dan perbuatan kita penuh
tipu daya, maka hidup akan mengutus orang-orang lain untuk memperdaya kita. Dan orang
yang memperdaya kita akan diperdaya lagi oleh orang lain, dan demikian seterusnya."
"Tetapi Kek, pernah ku ketahui ada seseorang yang jujur dan diperdaya dengan orang lain.
Bagaimanakah lingkaran kakek dapat menjelaskan hal itu ?"
Kakek tersenyum, kemudian mengelus kepalaku sebentar.
"Engkau cerdas.", jawabnya sambil menunjuk lingkaran yang saling berpotongan.
"Karena itu aku menggambarkan lingkaran lain,"
"Lingkaran-lingkaran yang ku jelaskan tadi kadang kala bersinggungan. Seperti gambar ini. Itu
lah hidup. Ia selalu memberikan kesempatan dan kebebasan buat kita untuk memilih. Apakah
tetap pada lingkaran ataukah pindah ke lingkaran lain, keputusan ada ditangan kita. Suatu
saat lingkaran ketulusan harus bersinggungan dengan lingkaran tipu daya. Ini sebuah ujian
bagi mereka yang berada dalam lingkaran ketulusan. Apakah ia akan tetap beradadilingkarannya ataukah dendam dan kepahitan membuat mereka membalas dan akhirnya
terbuang dari lingkaran yang mulia. Jika mereka bertahan, upah yang menjadi bagian mereka
tetap akan mereka dapatkan. Hal yang sama berlaku pada lingkaran tipu daya,
persinggungan ini membuat mereka yang berada dalam lingkaran jahat tersebut, punya
kesempatan untuk melihat keindahan lingkaran lain. Inilah yang Kakek ingin kau pegang
seumur hidupmu. Berusahalah menjadi bagian dalam lingkaran yang mulia dan sekali engkau
masuk kedalamnya, jangan pernah keluar lagi. Sebab besar upah yang pasti menjadi bagian
mu. Ingat hidup adalah hakim yang adil. Dan siapapun tidak berkuasa untuk mengurangi
ataupun mencuri upah mu itu. Dan jika suatu saat lingkaran mu bersinggungan dengan
lingkaran yang jahat. Janganlah tawar hati. Bertahanlah. Lapangkanlah hatimu. Siapa tahu
mereka-mereka yang kurang beruntung, yang kebetulan berada dalam lingkaran itu, karena
keteguhanmu, akhirnya berpindah menjadi bagian lingkaranmu. Dengan begitu hidup mereka
akan menjadi yang lebih mulia, sesuai dilingkaran mana mereka sekarang berada
by (MTA) Made Teddy Artiana
http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com/
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar